Artikel 5

KEGILAAN


Acep Zamzam Noor



SAYA masuk Seni Rupa ITB tahun 1980. Sebagai mahasiswa yang berasal dari kampung, tentu saja saya memandang lembaga pendidikan seni rupa ini dengan penuh kekaguman. Ahmad Sadali, But Muchtar, Srihadi Sudarsono, Popo Iskandar, A.D. Pirous, Umi Dachlan dan Jeihan adalah nama-nama yang sudah tertanam jauh di lubuk hati saya. Dan nama-nama terkenal ini, di mata saya, tak bisa dilepaskan dari kebesaran Seni Rupa ITB. Saya kemudian merasa beruntung karena Ahmad Sadali, But Muchtar, Mochtar Apin, Srihadi Sudarsono, A.D. Pirous dan Umi Dachlan yang waktu itu sedang berada di puncak kreativitasnya sebagai pelukis, masih aktif mengajar. Di tambah lagi dengan Angkama, G. Sidharta Sugijo, Soedjoko, Sanento Yuliman, Yusuf Affendi, Rita Widagdo dan Sunaryo, nama-nama hebat yang saya ketahui kemudian. Seni Rupa ITB benar-benar sarang macan waktu itu.


”Syarat belajar kesenian itu harus gila dan keras kepala,” kalimat ini dibisikkan seorang senior pada saya. Saya tidak terlalu kaget mendengar kalimat yang provokatif itu. Bukan hanya menjadi pelukis atau seniman saja, pikir saya, untuk menjadi santri atau kiai pun dibutuhkan kegilaan. Waktu itu saya memahami kegilaan secara positif sebagai bentuk lain dari keseriusan dan kesungguhan. Kegilaan, memang sudah menjadi atmosfir yang begitu membius dari kampus peninggalan kolonial yang penuh dengan arca-arca batu itu. Siapapun yang memasuki kampus ini untuk pertama kalinya pasti akan merasakan atmosfir yang lain. Paling tidak merasakan getaran yang aneh pada tengkuknya.


Saya masih ingat, di halaman antara studio patung dan keramik seorang lelaki yang sudah cukup berumur sibuk memahat gelondongan kayu yang mirip perahu. Ia memakai celana komprang hitam, rambutnya yang panjang ikal disanggul mirip Gajah Mada, mukanya dipenuhi jambang, kumis dan jenggot yang lebat. Lehernya digantungi bermacam kalung dari kayu dan tulang, sedang lengan serta kakinya dilingkari aneka gelang dan gengge. Sambil memahat kadang ia bergumam atau tersenyum sendiri. Saya memandangnya dengan perasaan kagum. Belakangan saya tahu lelaki yang mirip pendekar itu Mahin Inka, seorang mahasiswa abadi. Konon ia tak mau segera menyelesaikan studi patungnya karena merasa betah dengan atmosfir kampus yang membuatnya bisa tetap memelihara dan menikmati kegilaan.


Saya juga masih ingat, di dalam studio patung seorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit gelap, berambut ikal, berwajah dingin dengan sorot mata seperti menyimpan dendam sedang asyik bergelut dengan tanah liat. Seluruh pakaiannya kotor oleh percikan lumpur. Ia bekerja dengan serius tanpa sedikit pun bersuara. Ketika saya mendekati dan sedikit berbasa-basi padanya, ia tetap membisu seperti batu. ”Huuuh....” hanya dengus itu yang keluar dari mulutnya, itu pun setelah saya cukup lama melongo. Belakangan saya tahu lelaki itu Semsar Siahaan, mahasiswa abadi yang lain, yang menjadi terkenal setelah berani membakar patung karya dosennya sendiri. Kegilaan dalam bentuk yang lain diperlihatkan juga oleh Harry Suliztiarto, Gita Surawijaya, Ktut Winata dan Baringin Hutauruk yang kerjanya setiap sore memanjat-manjat dinding Galeri Soemardja dengan seutas tali. Saya menonton mereka dengan kekaguman juga. Mereka adalah para senior yang bertubuh kekar, berkumis, berjambang dan berjenggot.


Nampaknya trend seniman waktu itu bukanlah memakai celana jeans yang sobek, tapi memelihara kumis, jambang dan jenggot (yang sekarang justru menjadi populer di kalangan para aktivis pembela agama). Susiawan, senior yang mukanya klimis nampak seperti ”minder” di tengah para pendekar yang brewokan itu. Untuk mengimbangi penampilan teman-temannya, ia pun memanjangkan rambut hingga ke pinggang dan tak pernah lepas dari kacamata hitam. Yustiono, senior lain yang juga berwajah klimis, berusaha keras untuk tidak terpengaruh trend ini. Dengan tegas ia memilih gaya yang independen: rambut pendek, pakaian rapi, tingkah santun, bicara pelan dan lambat, dan tentu saja rajin salat. Namun dengan gaya seperti ini justru ia menunjukkan kegilaan lain, terutama karena menjadi kontras dengan kaum mayoritas yang gondrong, brewokan dan bertingkah seenaknya itu.


Kegilaan para senior semakin terasa ketika kami menjalani masa perpeloncoan. Setelah berhari-hari melewati penggemblengan yang sangat menyiksa di kampus, tibalah waktunya acara penutupan. Semua mahasiswa baru dibawa ke hutan di sekitar Lembang, untuk dipestakan. Namun sebelum pesta dimulai, kami diwajibkan dulu menjalani sejumlah gemblengan fisik, yang puncaknya harus berendam dalam kolam yang dinginnya seperti es. Saya tidak tahu sejauh mana hubungan antara seni rupa dengan fisik yang digenjot ala Menwa ini.Yang jelas acara kemudian dilanjutkan dengan makan kambing guling dan nyanyi-nyanyi. Semakin malam semakin banyak yang bertingkah aneh, bahkan keterlaluan. Salah seorang senior yang gemuk, botak dan konon berasal dari suku Batak tiba-tiba membuka celana dan mengibar-ngibarkan ”burung” miliknya di hadapan kami.


Pada tahun pertama setiap mahasiswa sudah menunjukkan kegilaan-kegilaannya. Ada yang malu-malu, ada yang pelan tapi pasti, dan ada juga yang ekstrim. Mulai dari rambut, pakaian, asesoris, tingkah laku, juga cara berpikir. Saya sempat curiga, jangan-jangan mereka sudah merasa menjadi seniman begitu diterima sebagai mahasiswa. Memang, kegilaan-kegilaan yang mereka tunjukkan banyak sekali ragam dan variasinya. Begitu juga dengan dosisnya. Ada kegilaan yang otentik, dalam pengertian wajar dan pas dengan kepribadiannya. Ada kegilaan yang berkaitan dengan ekspresi dan proses kreatif yang sedang dijalaninya. Ada kegilaan yang artifisial, yang sama sekali tidak maching dengan kepribadian maupun kreativitasnya. Ada juga kegilaan yang sekedar ingin berbeda dari yang lain. Selain itu, masih ada lagi kegilaan yang dipengaruhi alkohol atau obat-obatan. Tentu bisa dibayangkan bagaimana kegilaan-kegilaan yang beragam itu berlangsung di suatu tempat dan pada saat yang bersamaan. Tak sedikit orang yang tadinya nampak normal tersedot ke dalam atmosfir ini.


Dalam banyak perkuliahan tentang proses kreatif, saya sering mendengar uraian yang menjelaskan hubungan antara kreativitas (termasuk di luar kesenian) dan kegilaan (dalam pengertian yang luas) itu sangat dekat. Dengan demikian melakukan tindakan-tindakan gila, apalagi untuk urusan berkarya, bagi sebagian mahasiswa kemudian dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan biasa. Maka berlomba-lombalah mereka melakukan kegilaan, baik kegilaan dalam berkarya, bertingkah maupun berpikir. Kurnia misalnya, teman seangkatan saya ini tiba-tiba sangat disibukan dengan urusan kostum. Ia tak mau pakaian yang dikenakannya sama dengan yang lain, maka model apapun pernah dicobanya. Kadang ia memakai sorban seperti pejuang Palestina, kadang berkerudung sarung atau selimut seperti orang sakit demam, bahkan pernah juga memakai baju ibunya. Kostum yang dipakai tak ada hubungannya dengan urusan artistik, sekedar ingin lain dari yang lain saja. Selain itu ia suka memakai motor trail ke kampus, dan motor itu sering ditinggalkan begitu saja di tengah jalan kalau sedang kehabisan bensin atau mogok. Ia sendiri pulang naik angkot.


Sekali waktu saya mendengar ia mencoreti dinding-dinding rumahnya dengan warna-warna tak keruan, di waktu lain saya juga mendengar ia mengamuk dengan merusak semua perabotan. Ketika saya menengok ke rumahnya, ia hanya ketawa-ketawa dan menganggap semua yang terjadi itu bagian dari kesenian. Lama-lama saya melihat kegilaannya bukan sekedar nyentrik, tapi mulai mengarah pada kegilaan yang serius. Kurnia akhirnya harus menerima kenyataan dikeluarkan alias DO (drof out) pada tahun pertama kuliahnya. Meskipun begitu, setiap hari ia masih suka datang ke kampus dengan segala tingkah lakunya yang semakin hari semakin absurd. Ia sempat menghilang lama dan ketika muncul lagi ia sudah gila beneran.


Selain Kurnia, masih banyak teman lain yang juga kena DO. Sebagian besar disebabkan oleh tingkahnya yang gila, yang menyebabkan mereka tak mampu menyelesaikan tugas-tugasnya. Ada ketidakseimbangan antara dorongan berkarya yang menggebu dengan kemampuan mengontrol diri. Juga ada ketidakseimbangan antara keinginan menjadi seniman dengan kesabaran menjalani proses dalam berkesenian. Ketidakseimbangan ini kemudian membuat mereka limbung serta kehilangan arah dan orientasi. Efeknya ada yang bertingkah aneh-aneh atau malah sebaliknya, diam seribu bahasa. Komarudin misalnya, di kalangan teman-teman ia termasuk orang yang sangat introvert, jarang bicara dan sekali pun bicara gagapnya minta ampun. Ia dikeluarkan karena tak mampu menanggung beban berat sebagai mahasiswa Seni Rupa ITB, yang kemudian membuatnya menjadi seorang yang pasif. Ia merasa Seni Rupa ITB terlalu besar dan kurang pantas bagi dirinya.


Kegilaan tidak selalu muncul karena sikap nyentrik atau ingin berbeda dengan yang lain. Banyak juga yang disebabkan karena cara berpikirnya yang ruwet, mendalam atau mengawang. Banta misalnya, teman saya ini tipikal pemikir dan perenung. Seluruh aforisma para filosof terkenal nyaris hapal di luar kepala. Ia sangat mengagumi ajaran Gandhi dan Zen Budhisme, sehingga dalam menjalani kehidupannya sehari-hari ia begitu intens. Sekali waktu ia punya masalah (urusan akademis) dengan salah seorang dosennya. Ia sudah mencoba mengurusnya dengan cara baik-baik, tapi tak bisa selesai. Lalu mencoba lagi dengan mengajak dosennya berdialog hingga terjadi perdebatan yang seru, namun urusan tetap tak selesai juga. Karena masih penasaran besoknya ia kembali mendatangi kantor dosennya itu, dan tanpa berkata-kata langsung melorotkan celana serta memperlihatkan “burung” kebanggaannya. Tentu saja dosennya yang kebetulan perempuan itu menjerit hingga terjadi kehebohan di kampus. ”Kalau bahasa lisan sudah tidak berarti apa-apa, maka yang diperlukan adalah bahasa tubuh...” begitulah kira-kira ucapannya yang masih saya ingat.


****


Membaca buku Jeihan, Ambang Waras dan Gila karya Jakob Sumardjo membuat saya teringat kembali pada teman-teman kuliah dulu. Bukan hanya pada Kurnia, Komarudin atau Banta yang saya singgung di atas, tapi juga pada Yayak Kencrit, Bambang Paimo, Eddy Prapto, Sukmohadi, Yudi Yudoyoko dan terutama Nendi Afghani. Mereka adalah orang-orang sehat dan berbakat, namun cara berpikirnya kadang seperti berada di ambang waras dan gila. Mereka adalah orang-orang yang menggunakan akal dan perasaannya, namun kadang sulit dipahami oleh orang berakal dan berperasaan ”umum” lainnya. Meskipun demikian, bagi saya mereka termasuk orang-orang yang kreatif, intens, konsisten dan sehat dalam menjalani kehidupan.


Kencrit yang dulu pernah dikejar-kejar polisi karena membuat komik tentang tanah pada sebuah kalender, sekarang masih tetap kritis dengan karya-karyanya. Paimo yang tergila-gila pada sepeda sampai sekarang masih terus melanjutkan kegilaannya dengan bersepeda keliling dunia. Prapto saya dengar menjadi seorang pendeta, cocok dengan wataknya yang penggembala. Sukmo yang seluruh waktu dan enerjinya pernah dihabiskan untuk memikirkan rencana ekspedisi di sungai Membramo, sampai sekarang masih terus disibukan dengan rencana-rencana besar. Yudi konon masih terus melakukan eksperimen, termasuk dengan kehidupannya sendiri. Dan Nendi? Mudah-mudahan ia semakin mantap menjadi seorang sufi.


Jakob Sumardjo dengan sangat intens dan mendalam memasuki ceruk-ceruk kegilaan Jeihan. Pada titik tertentu ternyata kegilaan juga bisa indah, bisa mulia dan berharga. Tak banyak orang yang menyadari kegilaannya sendiri, apalagi yang terang-terangan mengaku dirinya gila atau pernah sakit jiwa. Orang-orang gila beneran pun pasti akan tersinggung jika mereka disebut gila. Namun Jeihan adalah perkecualian. Ia justru bangga dengan kegilaannya, bahkan kegilaan telah disulapnya menjadi tenaga untuk terus berkarya. Jeihan menjadi kaya raya juga disebabkan kegilaannya. Dan saya membayangkan dengan kekayaan yang dimilikinya ia akan lebih leluasa mengembangkan kegilaannya menjadi semakin gila lagi. Termasuk kegilaannya dalam beribadah serta beramal saleh.


Membaca biografi ini saya seperti menemukan penjelasan sekaligus penegasan tentang kegilaan. Menurut saya kegilaan Jeihan termasuk kegilaan yang otentik, kegilaan yang tidak dibuat-buat dan memang sudah dari sono-nya begitu. Kegilaan Jeihan adalah kegilaan dalam berpikir dan bertindak, bukan dalam performance apalagi sekedar memancing perhatian orang. Ia seorang yang berwatak serius tapi juga tidak kehilangan canda. Ia seorang pekerja keras tapi juga sangat menikmati hidupnya dengan santai. Ia seorang melankolis tapi juga riang gembira. Ia seorang yang bermulut besar dan sekaligus rendah hati. Dalam pandangan orang pesantren, inilah yang disebut istiqomah: di mana keseriusan dan main-main telah menyatu, di mana pikiran dan intuisi bersenyawa, di mana kegembiraan dan kesedihan tak ada bedanya, di mana ilmu dan amal telah berkelindan. Inilah yang disebut otentik. Dan kegilaan yang otentik selalu dapat dimaklumi, dipahami dan dinikmati. Kegilaan yang otentik tidak akan membahayakan orang lain.


Sekarang ijinkanlah saya membandingkannya dengan Gus Dur. Seperti halnya Gus Dur, Jeihan suka berbicara terus terang, kontroversial dan terkadang asal bunyi. Seperti halnya Gus Dur, Jeihan mempunyai rasa humor tinggi, makanya mereka sering mengejek dan menertawakan diri sendiri. Seperti halnya Gus Dur, Jeihan tidak pernah terganggu dengan kekurangan karena kepercayaan dirinya jauh lebih besar dari kakurangannya itu. Konon ia menderita autis dan gegar otak sejak masih kecil. Seperti halnya Gus Dur, Jeihan juga gemar menciptakan musuh-musuh dalam hidupnya. Dengan musuh-musuh inilah kreativitasnya menjadi semakin terpacu. Dan seperti halnya Gus Dur, Jeihan juga seorang pendendam, namun dendamnya menjadi positif karena dijadikan amunisi dalam berkarya atau berkompetisi dalam kesenian.


***


Jeihan mula-mula belajar melukis dengan gaya sanggar pada Himpunan Budaya Surakarta (HBS) ketika masih remaja di Solo. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Seni Rupa ITB. Di kampus ini Jeihan kuliah selama 6 tahun tanpa pernah menyelesaikannya. Meskipun begitu, Seni Rupa ITB mempunyai peranan yang sangat penting dalam karir kepelukisannya. Bahkan ia sendiri sangat bangga dengan bekas kampusnya ini. Sudah sejak lama saya banyak mendengar cerita, seperti juga diungkap dalam buku karya Jakob Sumardjo ini, bahwa Jeihan sering bertengkar dengan dosen-dosennya. Bahwa Jeihan tidak pernah cocok dengan dosen-dosennya. Bahwa Jeihan seorang pemberontak, dan wujud dari pemberontakannya itu adalah keluar dan menantang dosen-dosennya untuk bertarung – sebagai pelukis tentunya – di lapangan terbuka. Di luar kampus.


Cerita-cerita tentang Jeihan ini menjadi semacam legenda yang beredar dari mulut ke mulut, terutama bagi mereka yang mempunyai kecenderungan memberontak. Saya masih ingat, bagaimana Rudi Anggoro terkagum-kagumnya pada Jeihan, sehingga ia merekam semua ocehan pelukis idolanya ini sampai berkaset-kaset. Rekaman tersebut selalu diputarnya setiap kali ia membutuhkan pencerahan. Dan tak lama kemudian mahasiswa yang dikenal pemberang ini menyatakan keluar dari Seni Rupa ITB. Memang tak sedikit yang menyatakan keluar, mengundurkan diri atau akhirnya dikeluarkan karena sikap memberontak seperti itu. Rax Salam, Mahin Inka, Semsar Siahaan, Arahmaiani, Eddo Sahir, Adella Iwanda dan Asep Berlian adalah sebagian dari nama-nama yang masih saya ingat.


****


Dalam beberapa kesempatan bertemu dan berbincang dengan Jeihan, tanpa risih ia selalu menceritakan kekayaannnya, simpanan uangnya yang tak terhitung di bank, tanah-tanahnya yang luas, rumah-rumahnya yang banyak, mobil-mobilnya yang bagus, anak-anaknya yang sukses, harga lukisannya yang semakin tinggi, termasuk masjid dan segala amal jariyahnya. Semuanya diungkapkan dengan ringan, tanpa beban apa-apa, bahkan tanpa ada kesan narsis atau menyombongkan diri. Bagi saya itulah yang disebut otentik, asli dan tidak mengada-ada. Pas antara ucapan, intonasi, raut muka serta gerak tubuh. Pendek kata, ucapannya tidak terasa sebagai rekayasa. Seandainya pelukis lain mengucapkan hal yang sama, mungkin akan terkesan narsis, pamer, riya atau besar kepala. Tapi karena Jeihan, semuanya terasa wajar dan biasa saja, apalagi ia mengucapkannya sambil menggerakkan tangan dan kaki seperti halnya anak kecil yang kegirangan mendapatkan mainan baru. ”Horeee saya kaya....” teriaknya gembira.


Kegilaan yang otentik tentu tidak hadir begitu saja. Sebuah kegilaan akan menjadi otentik karena dilatih terus menerus oleh pemiliknya, dikelola dan diarahkan pada jurusan yang tepat. Kegilaan pada setiap orang wujudnya tidak pernah sama, bentuknya selalu berbeda-beda dan aromanya lain. Begitu juga dimensinya bertingkat-tingkat sesuai dengan pencapaian maqom masing-masing. Menurut saya seniman-seniman gila di Indonesia ini bukan hanya Affandi, Nashar, Jeihan, Soetardji Calzoum Bachri atau Gombloh yang penampilan fisiknya lusuh dan berantakan. Tapi juga Basuki Abdullah, Ahmad Sadali, Srihadi Soedarsono, A.D. Pirous, Saini K.M. atau Budi Darma yang meskipun nampak necis dan flamboyan namun tak kalah gilanya dibanding mereka yang lusuh dan berantakan itu.


Siapa bilang Ahmad Sadali tidak gila? Rambut yang tersisir dengan poni agak melingkar ke samping, kemeja dan pantalon yang tersetrika rapi, yang senantiasa maching dengan warna sepatu serta saputangan yang menyembul dari saku, tutur kata-kata yang halus disertai senyum, tubuh yang bersih, muka yang jernih, juga kumis yang selalu terjaga ketipisannya. Penampilan seperti ini tentu membutuhkan disiplin tingkat tinggi, ketelatenan yang keras kepala serta kesigapan yang tidak main-main. Bagi saya ini merupakan kegilaan dalam bentuknya yang lain, yang belum tentu mampu dilakukan oleh Affandi, Nashar, Surtardji atau Gombloh misalnya. Selain itu, kebiasaan Sadali melukis setelah sembahyang subuh yang sudah dijalaninya secara rutin selama puluhan tahun, tentunya membutuhkan kedisplinan tingkat tinggi pula. Membutuhkan kekeraskepalaan yang tidak sederhana. Dipandang dari sudut ini jelas bahwa Ahmad Sadali termasuk seniman yang gila.


***


Kembali kepada buku Jeihan, Ambang Waras dan Gila. Biografi yang ditulis Jakob Sumardjo dalam bentuk esei ini saya rekomendasikan untuk menjadi buku panduan bagi seniman atau calon seniman tentang bagaimana mengelola kegilaan menjadi sebuah potensi. Atau paling tidak, bagaimana menjadi orang gila yang baik dan benar. Bahkan bukan hanya seniman atau calon seniman, siapapun yang merasa dirinya gila atau mempunyai benih-benih kegilaan bisa bercermin dan belajar pada buku ini. Saya ingin menutup tulisan yang sengaja dibikin melompat-lompat biar terkesan agak “gila” ini dengan sebuah seruan:


Wahai presiden, para menteri, para gubernur, para bupati dan walikota, bacalah buku ini. Wahai para hakim, para jaksa, para tentara dan polisi, bacalah buku ini. Wahai para pengurus partai, para wakil rakyat, para broker politik dan tim sukses, bacalah buku ini. Belajarlah kalian bagaimana menjadi orang gila yang baik dan benar. Menjadi orang gila yang tidak merugikan bangsa dan negara.


(2007)

Prev Next Next